Newsflash
PPSPA kembali aman, kegiatan pesantren dimulai lagi pada Senin, 22 November 2010 |
Pendidikan
Artikel
| Etos Kemandirian Mbah Mufid |
|
|
| Written by Administrator |
| Monday, 01 November 2010 16:48 |
|
Banyak ihwal yang dapat kita teladani dari profil almarhum almaghfuuru lahu KH. Mufid Mas’ud. Para santri dan alumni, langsung maupun tidak, telah diwarisi oleh pelbagai wejangan, etos perjuangan, karakter, hingga tauladan hidup yang sarat nilai luhur dari pengalaman hidup bersama ulama kharismatik kelahiran Klaten ini. Pembacaan dan penafsiran kita akan pengalaman tersebut seyogiyanya mampu menjadi ransum spirit untuk bekal hidup nyata di lingkungan sosial masyarakat. Beberapa warisan moral yang bisa dipelajari dari biografi beliau antara lain adalah sikap kekeluargaan yang beliau patrikan kepada keluarga dan para santrinya. Sikap simpatik dan familiar yang bukan hanya sebatas anjuran, melainkan lebih pada penerapan secara langsung. Contoh kecil, imbauan untuk memanggil beliau dengan panggilan “Bapak” serta “Mas” dan “Mbak” untuk keluarga ndalem. Betapapun, hal ini bisa dimaknai sebagai keinginan yang amat tulus untuk meniadakan jarak emosional dan tabir sosial antara seorang Kiai dan para santri, tanpa sekali-kali menafikan aspek akhlaq dan relasi guru-murid yang wajar di dalamnya. Lazimnya di pondok pesantren, hubungan antara kiai-santri yang bersifat hierarkis (atas-bawah), pada titik ini, coba untuk diminimalisir, sehingga relasi berjalan harmonis dan cair. Perasaan dan ketulusan yang hadir layaknya seorang ayah dan anak dalam sebuah simpul ikatan keluarga. Bagaimanapun, ada nuansa keteduhan yang hangat dan penuh ayom ketika seorang santri merasa dianggap sebagai anak yang didekap dalam asuhan. Bapak menjadikan Ponpes Sunan Pandanaran yg dirintisnya semenjak tahun 1975, miniatur dari keluarga besar yang memadukan mozaik aneka warna dalam satu harmoni. Kesan lain yang bisa kita baca dari sejarah kehidupan Bapak adalah kentalnya kegigihan dalam mengarungi hidup. Keuletan berikhtiar kerap tidak hanya terdengar dari pesan-pesan beliau. Lebih dari itu, Bapak mengajari para santri untuk benar-benar mempraktikkan konsep beribadah (amal) senafas dengan upaya bekerja keras dalam bentuk riyadhah yang kontinu. “Menungso iku kudu gelem urip rekoso…”, Kurang lebih begitulah sejuknya ungkapan nasihat yang acapkali kita dengar dari Bapak. Perpaduan antara iman, ilmu, dan amal mesti diwujudkan secara praktis. Himbauan “riyadhoh sing mempeng” khas Mbah Mufid tidak lagi menari sebatas slogan belaka, namun para santri benar-benar diajak guna melihat dan terlibat langsung. Langkah da’wah bil haal yang ditempuh Bapak, dirasa lebih mampu memberikan atsar (pengaruh) yang pekat dan membekas kuat pada kesadaran orang-orang di sekelilingnya, terutama para santri. Upaya keras untuk senantiasa belajar sekaligus memanfaatkan ilmu, pada aras ini, sealur dengan pesan Imam Syafi’i, “wa nshab fainna ladzidz al-‘aisyi fi annashab”. Bekerja dan belajar yang optimal adalah wujud dari kenikmatan hidup yang hakiki. Membaca Al-Qur’an, sholawat dan beragam aurad adalah rangkaian amalan harian pokok yang diterapkan sekaligus diwanti-wanti Bapak supaya dilakukan oleh para santri dengan penuh keikhlasan. Nyaris tak boleh ada celah waktu yang kosong dari kegiatan bernuansa amal dan ibadah. Pola pemanfaatan waktu ala Bapak semacam ini dapat disaksikan secara nyata. Betapa beliau, misalnya, demikian istiqamah mengamalkan amalan, kapanpun dan dimanapun kesempatan untuk melakukan hal itu tersedia. Bagaimana Bapak selalu membaca Al-Qur’an di setiap kesempatan. Mulai dari dalam kamar kediaman beliau, di masjid bersama santri, di atas kendaraan saat bepergian, hingga di tempat darurat seperti rumah sakit, ketika beliau menjalani pelayanan medis. Sejumlah saksi melukiskan bagaimana Bapak selalu tak lepas dari membaca Al-Qur’an bahkan hingga detik menjelang kewafatan beliau. Makna sejati dari tauladan yang disodorkan Bapak adalah “tak bakal pernah ada kesulitan dan akan selalu tersedia kemudahan, apabila seseorang memang berniat untuk mengerjakan kebajikan.” Menjauhi amalan, dengan berbagai alasan, hanyalah belaka bualan dan buah dari kemalasan. Faqra’uw ma tayassara min al-qur’an… Kemauan untuk bekerja keras yang diwariskan oleh Bapak, pada dimensi tertentu, juga berarti ajakan kuat untuk memantapkan kemandirian. Usaha seseorang merupakan ukuran sejauhmana ia berniat untuk mandiri tanpa (harus selalu) bergantung kepada fasilitas pemberian orang lain. Mental baja berupa sikap pantang mengemis iba dan merangsang simpati dari pihak lain, ditunjukkan oleh Bapak dalam banyak hal. Antara lain dalam aspek penggalangan modal finansial bagi pembangunan dan pengembangan pesantren. Bapak mengajarkan agar kita merasa segan meminta serta mencegah para santri untuk mendamba belas kasihan orang. Ikhtiar dan doa dibingkai menjadi satu paket penangkal bagi mentalitas malas yang selalu mengandalkan uluran bantuan orang lain. Kita dituntut untuk selalu berupaya dengan jerih payah sendiri. Berdiri di atas kaki sendiri senyampang masih memiliki kekuatan untuk bertahan dan melangkah. Walaupun bukan berarti kita harus selalu menolak bantuan dan derma orang yang hendak memberi sokongan dalam pelbagai bentuk pertolongan. Bapak mendidik kita bagaimana menghargai usaha dan kemandirian tanpa menafikan dan memadamkan minat orang lain untuk juga turut berbagi menanam dan memanen kebajikan. Man jadda wajada. Ringkasnya, keringat sendiri niscaya akan tercium lebih wangi, dan semangat mandiri bakal terasa nyaman dinikmati. Pusaka kebajikan lain yang ditaburkan oleh Bapak guna ditauladani adalah keinginan dan sikap untuk selalu menghargai siapapun. Kemauan luhur idkhal assuruur, menyenangkan orang, tercermin antara lain dari kebiasaan Bapak yang senantiasa berusaha menghadiri undangan tepat pada waktu yang ditentukan. Pun juga usaha untuk menghindari kekecewaan tuan rumah saat ia berniat menghormati kita. Seorang alumni pernah menuturkan pengalaman saat mendampingi Bapak pada sebuah acara dalam kondisi ada santri yang sedang berpuasa sunnah. Bapak tak urung menyuruh si santri untuk membatalkan puasanya dan menikmati hidangan yang disuguhkan, semata demi menyenangkan perasaan sang tuan rumah. Beliau juga selalu membawa para santri menghadiri undangan dengan penampilan yang rapi dan simpatik. Satu hal lagi, Bapak selalu berpenampilan (khususnya busana yang dikenakan) bersih, rapih, dan pantas. Ini bagian dari pengamalan bahwa indah tak selalu harus mewah. Kesan bahwa Bapak adalah pribadi yang cinta kebersihan dan keteraturan, antara lain bisa dilihat dari anjuran beliau agar para santri saat menyetor hafalan Al-Qur’an senantiasa berbusana polos, menghindari pakaian beraneka motif dan berwarna mencolok. Bahkan, lebih kurang sejak awal tahun 2000-an, seluruh santri mutahafidzien diwajibkan mengenakan gamis putih. Dan ini berlaku hingga sekarang. Demikianlah. Sejumlah kesan di atas hanyalah sekelumit gambaran dari sehimpunan tauladan yang akan amat panjang bila diurai. Seorang bekas santri yang nakal seperti saya, sungguh jauh dari pantas, jelas hanya berkemampuan selintas, dan tak akan pernah tuntas menggambarkan kelas dan figuritas KH. Mufid Mas’ud, salah seorang sosok ulama kharismatik yang telah mampu melahirkan banyak ulama dan tokoh masyarakat di seantero nusantara dalam binaan dan didikannya. Ibarat biografi tebal, kisah kehidupan beliau adalah karya pustaka historis yang fenomenal, yang mungkin saya sendiri (sebagai santri biasa), hanya mampu meraba dan mengeja di sekisar lembar pengantar saja. Belum menyentuh kandungan isi (apalagi sampai pada halaman kesimpulan) yang sesungguhnya. Akhirnya kita bisa berharap semoga jasa-jasa besar beliau mampu memayungi jiwa, memancarkan motivasi dakwah, dan memantik spirit kebaikan kepada para santri, alumni, dan masyarakat muslim pada umumnya. ‘Alaa kulli haal, membaca profil Bapak, saya teringat pepatah klasik: “Nyalakanlah sinar walau hanya secercah cahaya lilin. Itu lebih baik dari sekedar diam sembari terus mengutuk kegelapan”. Kafaa Billahi ‘Alymaa.
Mohamad Ali Hisyam Kolumnis
|
Etos Kemandirian Mbah Mufid
